Saya bukan pujangga, itu bisa dipastikan, bahkan tatkala berdoa saya kadang kehilangan kata yang indah yang bisa saya sampaikan kepada ALLAH, padahal saya ingin menjadi kekasihNYA, sebagai seorang kekasih, seharusnya saya mampu mengucapkan cinta setiap kali usai shalat namun apa yang terjadi, kadang dada terasa sesak dan lidahpun kelu, sulit mencari kata yang tepat untuk melukiskan perasaan…
Kadang doa yang keluar malah standar dengan kata kata yang itu itu juga jadi seperti komat kamit hasilnya malah seperti baca mantera, dan mulai hari ini saya ingin mencoba berdoa yang akan merangkai kata indah, bukankah doa alat komunikasi kita dengan ALLAH, iya kan?
Bismillahirrahmaanirrahiim …
Ya ALLAH, tak ada satupun debu yang terbang tanpa izinMU, tak ada satupun daun yang gugur tanpa izinMU, tak ada setetes embun yang jatuh tanpa izinMU, tak ada manusia yang lahir ke dunia tanpa izinMU, tak ada jantung yang berdenyut tanpa izinMU, tak ada paru paru yang berdegup tanpa kuasaMU dan tak ada manusia yang mendapat hidayah tanpa kehendakMU … karena itu ya ALLAH, berikanlah saya hidayahMU selalu agar baik dunia saya, agar selamat akhirat saya karena sungguh ENGKAUlah pemilik segala kebaikan, amin ya ALLAH Berilah kebaikan di awal hidup saya, ditengah hidup saya dan di akhir hidup saya.
Ya ALLAH, saya hanya manusia yang hina dina dihadapanMU, ENGKAU yang mengetahui siapa diri saya, mengetahui apa apa yang saya lakukan, mengetahui yang tidak dilihat oleh Ayah saya bahkan, ENGKAU tutupi semua aib aib saya. Saya hambaMU yang penuh dosa, penuh riya, penuh takabur.. untuk itu ya Rahman ya Rahiim, ampuni saya ya Thawwaab, ampuni saya yang mengulang kesalahan ya Ghafur, dan tutupilah semua dosa dosa saya ya A’fuww, dan terimalah taubat saya wahai pemberi cahaya, sucikan hati saya dan bersihkan pikiran saya, basuh saya dengan ampunanMU dan sirami jiwa saya dengan kemuliaan milikMU… amin ya ALLAH
Allahumma ya ALLAH, kabulkanlah doa saya. Allahumma inni asaluka salamatan fiddin, wa afiatan fil jasad, wa ziyaadatan fil ilmi, wa barakatan firizqi, wataubatan qablal maut, warahmatan indal maut, wamagfiratan badal maut.. Allahumma hawin alaina fi sakaratul maut, wanajatan minannaar wa afwa minal hisab.. Rabbana aatina fiddunya hasanah, wafilakhirati hasanah, waqinaa adzaabannaar
Silahkan kopi dan gunakan kata kata saya ketika lidah kelu dan dada sesak saat berdoa, hingga doa menjadikan jembatan antara kita dan sang pemilik napas kita …
*”GR banget sih De … ” iya yah, temen temen pasti punya kata kata yang lebih indah, bahkan jauh lebih indah, mari berlomba lomba mendekati ALLAH melalui kata kata terindah kita *
Tuesday, March 31, 2009
Monday, February 9, 2009
Satu Teladan
Khalid Al-Miski adalah seorang pemuda yang tampan, rajin beribadah, wara', ikhlas, rajin bekerja, dan amanah. Dia seorang pedagang keliling kampung yang membawa barang dagangannya di atas kepala.Salah seorang wanita cantik tertarik pada Khalid Al-Miski yang tampan. Suatu hari, wanita ini memanggil Khalid dengan maksud akan membeli barang dagangannya. Ia telah merancang tipu-dayanya, lalu Khalid diminta agar masuk ke dalam rumahnya dengan alasan ia akan membeli dagangannya. Ternyata ia segera mengunci pintu-pintu rumahnya, kemudian berkata, "Kamu akan celaka, jika tidak mau melayani aku! Sebab aku akan mempermalukanmu di depan umum sehingga mereka menuduhmu ingin memperkosaku."
Khalid berusaha mengalihkan pembicaraan, tetapi tanpa membuahkan hasil. Lalu Khalid memperingatkannya dengan janji dan ancaman Allah. Akan tetapi, setan telah menguasai wanita cantik tersebut dan membutakan mata hatinya.
Ketika Khalid yakin bahwasanya ia tidak bisa menyelamatkan diri dari ancaman wanita tersebut, maka ia tampakkan dirinya menyetujui permintaannya dan meminta izin untuk berbenah diri di kamar mandi. Wanita itu bahagia dan setuju. Khalid masuk ke kamar mandi dan berpikir bagaimana caranya agar dapat terhindar dari godaan ini. Kemudian, Allah memberi petunjuk, sekalipun nanti tubuhnya akan kotor. Tidak masalah, asalkan ia dapat menghindarkan diri dari maksiat yang pasti mendatangkan murka Allah. Kemudian, Khalid melumuri wajah dan tubuhnya dengan tinja, dengan demikian tercium bau tidak enak, kelihatan jelek, dan menjijikkan.
Khalid keluar dari kamar mandi, begitu wanita tersebut melihat Khalid kotor dan menjijikkan, ia menghardik dan menyuruhnya keluar serta mengusir dari rumahnya. Pemuda tersebut lari dan meninggalkan rumah wanita untuk menyelamatkan diri dan agamanya.
Allah Ta'ala mengganti bau busuk dan menjijikkan itu dengan bau yang harum bagaikan minyak miski. Orang-orang pun dari kejauhan sudah mengetahui kedatangannya, sebelum mereka melihat Khalid, yaitu dengan mencium baunya yang harum. Sejak saat itu orang-orang memanggilnya dengan Khalid Al-Miski.
Inilah seorang Mukmin yang sebenarnya, yang meyakini bahwa Allah senantiasa mengawasi gerak-geriknya setiap saat sehingga sekalipun di hadapannya seorang wanita yang cantik dan gemulai, namun ia merasa takut kepada Allah. Tidak takut kepada manusia atau undang-undang karena semuanya tidak dapat melihat dan mengawasinya sepanjang waktu. Hanya Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihatlah yang senantiasa memantau gerakannya. Khalid takut dengan bahaya yang ditimbulkan oleh maksiat, maka ia mencari alasan dengan melumuri kotoran pada tubuhnya, dan justru ini menunjukkan kebersihan batinnya dan ketulusan imannya. Kemudian, Allah menggantinya dengan bau harum semerbak di dunia dan baginya di akhirat pahala yang besar dan berlimpah.
Sekarang ini, di zaman kita hidup, berapa banyak manusia melumuri wajah dan tubuhnya dengan parfum dan wangi-wangian. Akan tetapi, bau busuk perbuatan mereka menjadikan mereka tercemar dan terbongkar keburukannya, walaupun mereka berusaha menutupi aibnya. Disebabkan mereka hanya takut kepada manusia, bukan kepada Allah. Balasan seseorang itu sesuai dengan jenis amalnya
Saturday, January 10, 2009
Muslim Pencari Ridha Kaum Kuffar
Ada sebuah gejala baru yang selama ini tidak pernah dikenal dalam tradisi dan sejarah Islam. Yaitu munculnya sosok Muslim yang sibuk mencari keridhaan non-Muslim alias kaum kuffar. Selama ini Islam mengarahkan seorang beriman untuk hidup dengan landasan niat mengejar keridhaan Allah semata. Seorang Muslim hamba Allah ialah seorang yang dalam segenap kiprahnya hanya mengharapkan keridhaan Penciptanya. Setiap kali beramal, berfikir, berbicara, bersikap bahkan berperasaan, seorang Muslim selalu bertanya bagaimanakah Allah akan menilai amal, fikiran, ucapan, sikap dan perasaannya. Demikianlah cara pandang seorang Muslim sejati. Sedangkan bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar berkiprah, maka ia sibuk bertanya bagaimanakah kaum kuffar akan menilai kiprahnya.Dewasa ini kita berada dalam era paling kelam dalam sejarah Islam. Dunia menyaksikan munculnya fenomena abnormal dimana seorang Muslim sibuk mencari keridhaan kaum kuffar. Dalam babak kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan atau Para Penguasa Diktator dewasa ini, sebagian umat Islam menjadi terpengaruh oleh fihak penguasa dunia. Padahal Allah menyerahkan giliran kepemimpinan dunia kepada kaum kuffar –seperti yang kita saksikan dewasa ini- hanyalah dalam rangka menguji keimanan dan ke-istiqomahan kaum muslimin.
Bagi orang beriman yang tetap meyakini bahwa hanya Allah sajalah Penguasa Sejati langit dan bumi, maka ia akan tetap hidup dan berkiprah berlandaskan niat mencari keridhaan Allah. Namun bagi Muslim yang tertipu dan menyangka bahwa kaum kuffar telah menjadi penguasa yang sungguh berkuasa di dunia, maka mereka mulai mengalihkan hidup dan kiprahnya berlandaskan niat mencari keridhaan para penguasa diktator tersebut.Bila seorang Muslim sejati berbicara, ia berbicara untuk mencari ridha Allah. Bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tinggal diam, maka ia tidak berani berbicara karena ingin menyenangkan kaum kuffar. Bila seorang Muslim berjuang, maka ia berjuang untuk mentaati perintah Allah dan dalam rangka mengejar ridha Allah. Sedangkan seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tidak berjuang –padahal ia sangat berhak untuk itu- karena tidak ingin membuat kaum kuffar menjadi benci kepadanya. Sudah barang tentu ini semua tidak diutarakan secara blak-blakan, melainkan dibungkus dengan dalih misalnya ”langkah ini tidak baik untuk da’wah Islam” atau ”langkah ini akan menjauhkan orang dari Islam”.
Muslim jenis baru ini sangat terobsesi dengan upaya menjaga image atau citranya di hadapan orang kafir. Sedemikian rupa sehingga tolok ukur wala dan bara-nya (loyalitas dan berlepas diri-nya) berlandaskan penilaian si kafir terhadap image si Muslim. Muslim macam ini sangat menyukai sesama Muslim yang berpenampilan ”anak baik” di hadapan kaum kafir. Dan ia sangat mencela Muslim yang menurutnya mencoreng ”nama baik orang Islam”.
Jika identitas Islam yang ia tampilkan akan menggusarkan kaum kafir, maka ia rela menyesuaikan identitasnya dengan apa saja asal kaum kuffar menjadi mau menerimanya. Bila kaum kuffar mensyaratkan agar identitas Islam yang dikedepankan hendaknya tanpa embel-embel ideologi , maka ia akan tampil penuh rasa percaya-diri dengan menerjemahkan kalimat Basmalah sebagai: ”Dengan nama Allah Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan Segala Agama.” Ia akan siap membangun negara dengan meleburkan perbedaan ideologi ke dalam faham Nasionalisme. Dalam rangka mencari ridha kaum kuffar ia akan menjamin bahwa kemenangannya dalam pertarungan politik tidak akan diikuti dengan penerapan hukum Syariah Islam. Ia akan menafsirkan kewajiban jihad di dalam Al-Qur’an sebagai apa saja yang menyenangkan kaum kuffar asal bukan berarti mengangkat senjata di jalan Allah dalam rangka ’isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Bahkan secara perlahan namun pasti mereka sudah meninggalkan kosa kata jihad dalam kesehariannya...!!
Muslim jenis baru ini cenderung menjadi agresif, ekstrim dan tidak toleran terhadap sesama saudara seimannya. Namun toleran, moderat dan santun kepada kaum kuffar. Bila kepentingan kaum kuffar terusik atau terancam oleh sebagian Muslim, maka ialah orang pertama yang lompat untuk memberikan perhatian dan pembelaan bagi mereka. Ia tega berbicara menentang saudara seimannya bahkan mengkhianatinya. Ia sampai hati menganjurkan sesama Muslim untuk mengintai dan membocorkan rahasia saudara seimannya kepada fihak berwenang demi memenuhi rasa aman dan tenteram kaum kuffar. Apa yang ia lakukan diklaim sebagai berjuang demi Islam dan Da’wah. Apa yang dilakukan umat Islam disebut sebagai tindak terorisme dan pembangkangan terhadap fihak yang berwenang.Bila ia berpapasan dengan seorang Muslim ia tampilkan wajah datar kadang suram. Bila ia jumpa dengan kaum kafir ia tebar senyum dan sikap ramah. Malah ada sebagian dari Muslim pencari ridha kaum kuffar ini yang tidak sampai hati menyebut kaum kuffar sebagai kaum kuffar...!!! Sungguh sikap dan tingkahnya sangat cocok dengan gambaran yang Allah berikan dalam Al-Qur’an:

”Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah ayat 8-12)
Tuesday, January 6, 2009
Gambar paling pilu - Duka Palestinaku, apakah dayaku?

MERATAP... lelaki Palestin ini meraung ketika mengecam mayat tiga anaknya yang terkorban akibat bedilan kereta kebal Yahudi di Hospital Shifa, Gaza, semalam
Kata saja tak cukup, duka terlalu dalam tapi apa daya? Hanya Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa
Wahai Allah,
Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Bijaksana
Tenangkanah hatiku
Aku sedang gundah Ya Allah,
Hatiku merana, meradang, marah….dengan kedua tangan terikat dan kaki terbelenggu.
Hanya kedua mataku yang terpaku nanar ke layar kaca….menjadi saksi atas kezhaliman suatu bangsa……
Mataku menatap sosok-sosok berdarah di layar kaca
Sosok-sosok yang meregang nyawa ribuan kilometer jauhnya dari tempat dudukku
SubhanAllah……
Wajah-wajah yang dengan tenang meregang nyawa menghadap kamera dunia dengan menyebut namaMu………Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
Allahu Akbar……..apa dayaku……..hanya airmata yang ada…
Tapi aku tahu Ya Allah, bahwa Engkau ADA.
Engkau Menyaksikan
Dan Engkau sedang Menguji kami
Kalaulah kami tak faham bahwa Engkau ADA,
Kalaulah kami tak faham bahwa Engkau Maha Perkasa…
Lebih Perkasa dari bom-bom si laknat Ehud Olmert, Tzipi Livni dan Ehud Barak…..
Lebih Perkasa dari kata-kata berbisa dan penuh laknat dari pemimpin Amerika maupun Inggris….
Lebih Perkasa dari retorika PBB dan dunia Arab yang hanya bermain kata……..
Kalaulah kami tak faham itu semua maka mungkin kami hanya dapat menggigit bibir sendiri karena frustrasi dan putus asa
TIDAK
Sekali-kali TIDAK
Thursday, December 18, 2008
Survey Biaya Pernikahan dan Setelah Menikah Tahun 2008
Seorang temenku pernah bertanya, "He, kalau aku nikah tapi dengan gaji yang cuma sekian bisa gak ya?"
Hmmm.....
Maka dari pertanyaan itu aku membuat survey asal (ikutin pembiayaan orang kebanyakan di Indonesia (middle class gitu)), dan berikut adalah daftar pengeluaran standar bulanan setelah merit. Sekedar berbagi aja, buat temen-temen yang mungkin juga mengalami 'Matery after merit phobia syndhrome'.
Daftar anggaran bulanan (asumsi: disusun berdasarkan skala proritas, disusun dengan sangat relatif, dan berdasarkan basic needs standar menengah ke bawah Jakarta tahun anggaran 2008)
1. Makan
Dengan asumsi sekali makan adalah 10.000 Maka makan 3x sehari,kali 2 orang (karena lagu sepiring berdua cuma berlaku pada saat pacaran ajah), kali 30 Hari adalah Rp1.-1.000.000
Tips
Rajin-rajin ke kondangan atau sunatan, Dan bawa pulang nasi kotaknya pasti lebih ngirit.
2. Kontrakan
Dengan asumsi masih ngontrak di rumah petak, yang punya udah botak, tapi masih galak, dan punya persian cat belum jinak, maka Dana untuk kontrakan sekitar 700.000/bulan
Tips
Tinggallah di Pondok Mertua Indah Niscaya 2 Dana diatas gak akan pernah ada. Di pondok mertua indah, anda akan bebas makan apa aja, termasuk 'makan ati'
3. Listrik Dan Air
Dengan asumsi daya listrik 900 watt Dan pake jetpam maka anggaran untuk listrik adalah 200.000/bulan
Tips
Jangan pakai AC, cukup AC (angin cendela). Jangan suka main Plestesyen, cukup main monopoli, sudamanda atau gaple sama istri terasa lebih romantis.
4. Transportasi
Dengan asumsi naik motor ke kantor, dengan motor yang paling irit, maka untuk ongkos bensin Dan servis adalah 200.000
Tips
Gunakanlah bensin campur! (maksudnyah campur dorong, pasti lebih irit). Atau ikutlah "Nebeng Fans Club", dengan alasan mempererat silaturahmi dengan yang ditebengi maka perjalanan berangkat dan pulang kantor akan terasa lebih menyenangkan.
5. Komunikasi
Dengan asumsi pake CDMA yang 1000/menit maka untuk sebulan, ongkos Komunikasi berdua adalah 150.000
Tips
Pakelah 'FREN' yang lebih murah (maksudnya kalo mau nelpon atau sms tinggal bilang, "Freeen...minjam HP nya dong freen...")
6. Keperluan sehari-hari
Seperti sabun,odol,shampoo, dengan asumsi tidak pake fesyel,krimbat, manikyur, pedikyur, maka alokasi dana untuk ini sebesar 100.000
Tips:
Mandi kalo perlu saja Kalo dulu 2 kali sehari, jadi 2 Hari sekali. Untuk ngirit odol kembalilah memakai tumbukan batu bata.
7. Kesehatan
Seperti minyak kayu putih, vitamin, obat pusing (ini penting buat pengantin baru wekekekek!), maka alokasi cadangan untuk kesehatan sebesar 100.000
Tips
Jaga kesehatan jangan begadang...kalo tiada artinya...begadang bole saja...asalkan sambil ronda (halah!!)
8.Entertaiment
Nah ini kalau ada uang lebih aja, bisalaah sekali-sekali nomat, lihat live music, lari Pagi di monas, atau makan martabak sekali-sekali. Sebesarnya 350.000
Jadi...
Dari asumsi basic needs diatas maka pengeluaran untuk tiap bulan adalah sebesar:
Rp. 2.800.000/bulan
(Waduh pada cowok cowok dah...masih gede juga ya)
Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan temen-temen ketika pengen nikah, untuk kemudian dibandingkan dengan pemasukan yang Ada. Kalopun masih 'besar pasak daripada tiang' Anda bisa memperkecil pasak, atau memperbesar tiang...ataauu... Ga usak pakai Pasak, tapi dipaku aja!
Tapi Ada 1 hal yang Ga bisa dijelaskan dengan perhitungan ketika anda Memutuskan untuk menikah
(serius mode on*)
Yaitu, berkah menikah Selalu, Allah akan mencukupi kebutuhan umatnya yang mau berusaha Dan berdoa Selalu bersukur Dan percaya bahwa Allahlah raja dari segala raja akunting! So, stop accounting, just do it! :)
Wassallam
Hmmm.....
Maka dari pertanyaan itu aku membuat survey asal (ikutin pembiayaan orang kebanyakan di Indonesia (middle class gitu)), dan berikut adalah daftar pengeluaran standar bulanan setelah merit. Sekedar berbagi aja, buat temen-temen yang mungkin juga mengalami 'Matery after merit phobia syndhrome'.
Daftar anggaran bulanan (asumsi: disusun berdasarkan skala proritas, disusun dengan sangat relatif, dan berdasarkan basic needs standar menengah ke bawah Jakarta tahun anggaran 2008)
1. Makan
Dengan asumsi sekali makan adalah 10.000 Maka makan 3x sehari,kali 2 orang (karena lagu sepiring berdua cuma berlaku pada saat pacaran ajah), kali 30 Hari adalah Rp1.-1.000.000
Tips
Rajin-rajin ke kondangan atau sunatan, Dan bawa pulang nasi kotaknya pasti lebih ngirit.
2. Kontrakan
Dengan asumsi masih ngontrak di rumah petak, yang punya udah botak, tapi masih galak, dan punya persian cat belum jinak, maka Dana untuk kontrakan sekitar 700.000/bulan
Tips
Tinggallah di Pondok Mertua Indah Niscaya 2 Dana diatas gak akan pernah ada. Di pondok mertua indah, anda akan bebas makan apa aja, termasuk 'makan ati'
3. Listrik Dan Air
Dengan asumsi daya listrik 900 watt Dan pake jetpam maka anggaran untuk listrik adalah 200.000/bulan
Tips
Jangan pakai AC, cukup AC (angin cendela). Jangan suka main Plestesyen, cukup main monopoli, sudamanda atau gaple sama istri terasa lebih romantis.
4. Transportasi
Dengan asumsi naik motor ke kantor, dengan motor yang paling irit, maka untuk ongkos bensin Dan servis adalah 200.000
Tips
Gunakanlah bensin campur! (maksudnyah campur dorong, pasti lebih irit). Atau ikutlah "Nebeng Fans Club", dengan alasan mempererat silaturahmi dengan yang ditebengi maka perjalanan berangkat dan pulang kantor akan terasa lebih menyenangkan.
5. Komunikasi
Dengan asumsi pake CDMA yang 1000/menit maka untuk sebulan, ongkos Komunikasi berdua adalah 150.000
Tips
Pakelah 'FREN' yang lebih murah (maksudnya kalo mau nelpon atau sms tinggal bilang, "Freeen...minjam HP nya dong freen...")
6. Keperluan sehari-hari
Seperti sabun,odol,shampoo, dengan asumsi tidak pake fesyel,krimbat, manikyur, pedikyur, maka alokasi dana untuk ini sebesar 100.000
Tips:
Mandi kalo perlu saja Kalo dulu 2 kali sehari, jadi 2 Hari sekali. Untuk ngirit odol kembalilah memakai tumbukan batu bata.
7. Kesehatan
Seperti minyak kayu putih, vitamin, obat pusing (ini penting buat pengantin baru wekekekek!), maka alokasi cadangan untuk kesehatan sebesar 100.000
Tips
Jaga kesehatan jangan begadang...kalo tiada artinya...begadang bole saja...asalkan sambil ronda (halah!!)
8.Entertaiment
Nah ini kalau ada uang lebih aja, bisalaah sekali-sekali nomat, lihat live music, lari Pagi di monas, atau makan martabak sekali-sekali. Sebesarnya 350.000
Jadi...
Dari asumsi basic needs diatas maka pengeluaran untuk tiap bulan adalah sebesar:
Rp. 2.800.000/bulan
(Waduh pada cowok cowok dah...masih gede juga ya)
Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan temen-temen ketika pengen nikah, untuk kemudian dibandingkan dengan pemasukan yang Ada. Kalopun masih 'besar pasak daripada tiang' Anda bisa memperkecil pasak, atau memperbesar tiang...ataauu... Ga usak pakai Pasak, tapi dipaku aja!
Tapi Ada 1 hal yang Ga bisa dijelaskan dengan perhitungan ketika anda Memutuskan untuk menikah
(serius mode on*)
Yaitu, berkah menikah Selalu, Allah akan mencukupi kebutuhan umatnya yang mau berusaha Dan berdoa Selalu bersukur Dan percaya bahwa Allahlah raja dari segala raja akunting! So, stop accounting, just do it! :)
Wassallam
Friday, November 7, 2008
What if Barack Obama was muslim?
A significant number of West Virginians (and some others in America) evidently take the view that Democratic Presidential candidate Barack Hussein Obama is a Muslim.
In a surpassingly depressing report from the coal-miner state on the eve of the West Virginia primary, The Los Angeles Times notes voter views that go like this: "We do not need a Muslim to lead the good ole USA."
To more than a few Americans, it would seem, the very fact that "Hussein" is a Muslim should invalidate his candidacy, even though the U.S. Constitution establishes no official religion-and indeed guarantees freedom of religious choice for all.
Of this scenario, a quartet of things must be said:
First, it would not necessarily be so horrible if this well-spoken Senator from Illinois were in fact Muslim. It turns out that most Muslims, like those in the country with the world's most Muslims, are wonderful people who respect Allah, respect their countrymen, abhor violence and extremism, and generally would make excellent next-door neighbors.
In fact, very early in his life, Obama lived in Indonesia, before he returned to his native Hawaii, so he had met a lot of them. As a result, he doesn't think many Muslims are so terrible. That's because most Muslims, in fact, are not terrible-no more terrible than the rest of us, Christian or otherwise.
Second, if the American President were in fact a Muslim, you must understand that more than 1.2 billion of the world's Muslims would want to vote for him. Of course, they cannot-they don't pay American taxes, and not one of them ever voted for our current leader-George W. Bush, who is not a Muslim.
But if the American President were Muslim, Muslims would come to believe that America really is the land of opportunity for all-not just for white males who know how to fire people and then walk off with million-dollar bonuses because of how they kept costs down. Would the Muslim world's new faith in us and our political system be such a bad thing?
Third, most unfortunately (one might argue),is not a Muslim. So there we are. This politician is in fact a Christian.
Fourth, then there's the matter of middle name. Doesn't that sort of automatically make him Muslim? Alas, no: The "Hussein" that landed between the Barack and the Obama was put there to honor his paternal grandfather. Turns out, Grand-pappy Hussein, of Nairobi, Kenya, was originally a Christian who converted to Islam.
That's sad. This fall's vote for the American presidency is not about whether some Muslims are extremist and violent-sure some of them are; but so are some of our Christian nut-cakes. The fall vote is about who should help lead America for the next four years. It makes no difference whether that individual is an Islamist, a Christian, a Jew or an atheist.
But, for the record, Barack Hussein Obama is a Christian, as are many West Virginians; as are many Americans ... like George W. Bush. Can't we all get along, and respect one another?
In a surpassingly depressing report from the coal-miner state on the eve of the West Virginia primary, The Los Angeles Times notes voter views that go like this: "We do not need a Muslim to lead the good ole USA."
To more than a few Americans, it would seem, the very fact that "Hussein" is a Muslim should invalidate his candidacy, even though the U.S. Constitution establishes no official religion-and indeed guarantees freedom of religious choice for all.
Of this scenario, a quartet of things must be said:
First, it would not necessarily be so horrible if this well-spoken Senator from Illinois were in fact Muslim. It turns out that most Muslims, like those in the country with the world's most Muslims, are wonderful people who respect Allah, respect their countrymen, abhor violence and extremism, and generally would make excellent next-door neighbors.
In fact, very early in his life, Obama lived in Indonesia, before he returned to his native Hawaii, so he had met a lot of them. As a result, he doesn't think many Muslims are so terrible. That's because most Muslims, in fact, are not terrible-no more terrible than the rest of us, Christian or otherwise.
Second, if the American President were in fact a Muslim, you must understand that more than 1.2 billion of the world's Muslims would want to vote for him. Of course, they cannot-they don't pay American taxes, and not one of them ever voted for our current leader-George W. Bush, who is not a Muslim.
But if the American President were Muslim, Muslims would come to believe that America really is the land of opportunity for all-not just for white males who know how to fire people and then walk off with million-dollar bonuses because of how they kept costs down. Would the Muslim world's new faith in us and our political system be such a bad thing?
Third, most unfortunately (one might argue),is not a Muslim. So there we are. This politician is in fact a Christian.
Fourth, then there's the matter of middle name. Doesn't that sort of automatically make him Muslim? Alas, no: The "Hussein" that landed between the Barack and the Obama was put there to honor his paternal grandfather. Turns out, Grand-pappy Hussein, of Nairobi, Kenya, was originally a Christian who converted to Islam.
That's sad. This fall's vote for the American presidency is not about whether some Muslims are extremist and violent-sure some of them are; but so are some of our Christian nut-cakes. The fall vote is about who should help lead America for the next four years. It makes no difference whether that individual is an Islamist, a Christian, a Jew or an atheist.
But, for the record, Barack Hussein Obama is a Christian, as are many West Virginians; as are many Americans ... like George W. Bush. Can't we all get along, and respect one another?
Tuesday, November 4, 2008
Sumpah ini cerita sedih banget?
Di ambil dari milis. Suatu kenyataan betapa egoisnya warga Jakarta, bahkan untuk sesuatu yang hukumnya Fadhu Kifayah seperti mengubur jenazah. Sebuah kenyataan yang sangat sedih.. :(
Salemba, Warta Kota
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger
Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.
Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.
*** mohon maaf karena telah mengutip ulang berita ini***
Salemba, Warta Kota
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger
Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.
Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.
*** mohon maaf karena telah mengutip ulang berita ini***
Subscribe to:
Posts (Atom)
